Oleh: HE. Benyamine
Kecanduan merupakan suatu hal yang mengerikan. Manusia saat ini dianggap sudah mulai kecanduan, sebagaimana diungkapkan oleh Ban Ki-moon, United Nations Secretary-General, di mana kecanduan tersebut begitu cepat menghabiskan berbagai hal dan mengontrol kita, membuat kita mengabaikan kebenaran-kebenaran yang sangat penting dan membutakan kita kepada segala konsekuensi dari tindakan kita. Beliau menyatakan bahwa our world is in the grip of a dangerous carbon habit, sebagai peringatan yang patut diperhatikan dan direnungkan, tentang kecanduan akan karbon.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2008, setiap 5 Juni, mengajak kepada seluruh umat manusia untuk memberikan perhatian terhadap betapa pentingnya lingkungan hidup dan mendorong perhatian dan tindakan secara politik dari berbagai pihak. United Nations Environment Programme (UNEP) memilih tema tahun ini, yakni: Kick the CO2 Habit!: Towards a Low Carbon Economy, dengan harapan masyarakat dunia dapat meneruskan dan mempercepat perubahan terhadap kebiasaan yang bertumpu pada karbon, apalagi bagai kecanduan, untuk melakukan tindakan “Kick the C02 Habit” bagi setiap orang secara personal, perusahaan, organisasi, dan tentunya secara politik. Pesan dari tema ini, merupakan suatu pengakuan betapa luasnya kerusakan yang disebabkan oleh kecanduan terhadap karbon.
Sudah menjadi kebiasaan, setelah terjadi krisis, baru menyadari bahwa kebiasaan yang ditopang oleh rezim karbon telah menjadikan kerusakan yang sangat luas; krisis energi mengarahkan untuk mencari alternatif energi, tapi pilihan pada biofuel juga mengadung resiko semakin banyaknya lahan yang digunakan untuk kebutuhan bahan bakunya, begitu juga dengan semakin banyaknya hutan tropis yang terbuka bahkan menjadi lahan krisis. Karena, kita tidak hanya membakar karbon dalam bentuk bahan bakar fosil. Akan tetapi, seluruh hutan tropis terancam terhadap kebutuhan kayu dan kertas, untuk padang pengembalaan dan lahan perkebunan, serta semakin meningkatnya untuk tanaman yang mensuplai pesatnya pertumbuhan permintaan bahan untuk biofuels. Sehingga, kecanduan karbon tidak hanya melepaskan sejumlah besar CO2, tapi juga merusak sumberdaya yang sangat berharga untuk menyerap karbon di atmosfir, yang sangat berkontribusi terjadinya perubahan iklim.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi karbon, baik sebagai individu, organisasi, perusahaan atau pemerintah. Dalam World Environment Day Booklet 2008 terdapat Twelve Steps to Help You Kick the CO2Habit, berikut ini: 1). Make a commitment, berkometmen untuk mengurangi emisi karbon, 2). Assess where you stand, mengetahui di mana dan bagaimana kamu menghasilkan gas rumah kaca sebagai langkah pertama menguranginya, 3). Decide and plan where you want to go, rumah dan bisnis dapat mengurangi penggunaan energi 10 persen, yang juga mengurangi pelepasan 10 persen gas rumah kaca, contohnya listrik di gedung dan BBM transport.
Langkah selanjutnya, 4). De-carbon your life, aktivitas dan penunjangnya, baik produk maupun energi untuk membuatnya adalah perwujudan dari bentuk karbon. Jika semua konsumen, pabrik, dan pembuat undang-undang berpikir “low carbon” dan “climate friendly”, maka akan banyak menghimat emisi karbon berlipat ganda. Contohnya, raksasa retail Wal-Mart meminta salah satu pemasuknya mengurangi kemasan produknya hingga hanya 16 item. Pemasuk boneka dapat menghemat dari biaya kemasan, sedangkan Wal-Mart menggunakan lebih sedikit kontainer untuk mendistribusikan produknya, hal ini dapat menghemat kira-kira 356 barrel minyak dan 1,300 pohon, 5). Get energy efficient, tingkatkan efisiensi energi semua hal di sekitar seperti gedung, komputer, mobil, dan produk lainnya, karena hal ini merupakan jalan yang dapat paling cepat dan sangat menguntungkan dalam menghemat uang, energi, dan emisi karbon. Dengan kata lain, energy efficiency is about increasing productivity but doing more with less
Sedangkan langkah 6). Switch to low carbon energy, langkah ini jika memungkinkan untuk memindah ke sumber energi yang kurang memancarkan karbon dan dapat mengurangi biaya dan emisi. Pada umumnya, batu bara menghasilkan dua kali gas emisi, enam kali jumlah dari tenaga surya, 40 kali jumlah tenaga angin, dan 200 kali jumlah dari tenaga air. Tentu lebih baik jika dapat memilih energi dari sumber energi yang dapat diperbaharui (renewable energy source), 7). Invest in offsets and cleaner alternatives, dengan memberikan kompensasi atas emisi yang masih kita lepaskan berupa sumbangan terhadap mereka yang mengurangi emisi. Hal ini disebut “carbon offset” atau kredit karbon, sebagai langkah mengimbangi. Untuk membeli carbon offset, dapat dilakukan dengan membayar perusahaan offset yang mengimplementasikan dan mengelola proyek untuk menghindari, mengurangi atau menyerap gas rumah kaca.
Berikutnya, langkah 8). Get efficient, memperhatikan kehidupan dan bisnis melalui lensa karbon netral dapat membantu meningkatkan efisiensi dari penggunaan sumberdaya, menghindari dan mengurangi limbah. Karbon pada umumnya menghasilkan limbah saat memproduksi energi. Jadi, sangat perlu mengintegrasikan pendekatan 3R (reduce, reuse, dan recycle) ke dalam cara berpikir dan bertindak, 9). Offer—or buy—low carbon products and services, pasar untuk produk dan jasa yang climate friendly telah tumbuh dengan cepat, dari produk efisiensi energi sampai sistem energi baru yang diperbaharui. Untuk menawarkan produk seperti ini, penting dimulai dari tahap desain seperti menambahkan spesifikasi efisien energi pada proses desain, yang dapat meminimkan konsumsi energi selama digunakan dan menghemat energi dan waktu konsumen setelah dibeli. Pendekatan baru yang mempertimbangkan aspek-aspek lingkungan pada semua tahapan pengembangan suatu produk dengan paling rendah mempengaruhi lingkungan selama siklus hidup produk. Ecodesign adalah strategi sangat penting bagi perusahaan skala kecil dan menengah di negara maju dan berkembang untuk meningkatkan performa lingkungan dari produknya, mengurangi limbah dan meningkatkan posisi kompetitif mereka di pasar.
Jangan lupa langkah 10). Buy green, sell green, pasar untuk produk ramah lingkungan (green products) berkembang dengan pesat. Konsumen di beberapa negara makin makin bertambah yang sudi membeli green products jika mereka mempunyai pilihan. Namun, pasar untuk green products masih tetap perlu didukung untuk terus berkembang, karena masyarakat masih kesulitan menemukan lokasi produk tersebut atau masih meragukan klaim perusahaan bahwa produknya ramah lingkungan, 11) Team up, sektor swasta semakin meningkat berkejasama dengan LSM, pemerintah kota atau pemerintahan untuk mengindifikasi dan mengimplimintasikan solusi praktis terbaik untuk mengurangi emisi, dan 12). Talk, perusahaan dan organisasi lainnya perlu menjalin komunikasi. Sangat dibutuhkan transparasi. Karena, internet dan media lainnya sudah mempersulit bagi perusahaan, organisasi, dan pemerintah menyembunyikan sesuatu hal. Pengurangan emisi, khususnya dengan meningkatkan efisiensi merupakan win-win situation yang dapat juga mengangkat reputasi perusahaan. Sebenarnya, konsumen dan investor meminta informasi bagaimana suatu perusahaan merespon resiko dan peluang yang berhubungan dengan perubahan iklim.
Jadi, seandainya belum tahu dari mana harus memulai untuk melakukan Kick the CO2 Habit, mungkin dengan membaca 12 langkah di atas akan memberikan jalan lebih mudah untuk memulainya atau sebenarnya sudah mulai melakukannya. Namun, ada yang lebih mudah, dengan memilih produk daerah yang memang dapat diproduksi di daerah ini. Seperti, memilih sayuran dan buah-buahan yang banyak terdapat di daerah ini. Dari 12 langkah yang ditawarkan UNEP tersebut, tentu kita dapat memilih langkah yang paling mungkin untuk dilakukan, meskipun dengan langkah yang paling kecil untuk memulainya. Ayo kick the CO2 habit!
(Tulisan ini dimuat dalam rubrik opini koran Radar Banjarmasin, 5 – 6 Juni 2008, halaman 3)
Recent Comments